Viral! OMK di Lembata Nyanyi Lagu Andmesh dan ‘Rumah Kita’ Saat Perayaan Liturgi

Secara liturgis, nyanyian lagu-lagu profan dilarang keras oleh Gereja.

Budaya, Humaniora, Update1453 Dilihat

GRAHA BUDAYA Ramai di media sosial, khususnya Facebook dan WhatsApp, video yang memperlihatkan nyanyian koor lagu profan oleh Orang Muda Katolik (OMK) dalam sebuah perayaan liturgi.

Dalam dua video yang beredar, tampak OMK menyanyikan lagu musisi asal NTT Andmesh Kamaleng berjudul “Cinta Luar Biasa” yang melalui lagu ini dia meraih Artis Solo Pria Terbaik pada tahun 2019 lalu.

Sementara dalam video kedua, OMK yang sama menyanyikan lagu berjudul ‘Rumah Kita’ karya band God Bless dalam album Semut Hitam yang dirilis tahun 1988.

Baca juga: Bukan Bela Diri, Polri Tetapkan Bharada E Tersangka Kasus Kematian Brigadir J

Beberapa sumber mengatakan peristiwa tersebut terjadi di sebuah Lingkungan di salah satu paroki di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Belum diketahui kapan peristiwa tersebut terjadi. Namun dapat diperkirakan terjadi belum lama ini.

Lagu ‘Cinta Luar Biasa’ dinyanyikan saat momen persembahan, sedangkan lagu ‘Rumah Kita’ dinyanyikan saat upacara Komuni atau penerimaan Sakramen.

Ramainya video ini di media sosial pun menarik perhatian umat Katolik, tidak hanya di NTT, tapi juga di tanah air.

Bahkan, kedua video tersebut disebut telah diketahui oleh pihak Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Banyak pihak kemudian mengkritik penggunaan lagu profan atau non Liturgis dalam perayaan Ekaristi yang secara hukum Gereja dilarang keras.

Baca juga: Tampil Gacor Bersama Persija, Wonderkid Asal NTT Ini Calon Kuat Masuk Skuad Piala Dunia Timnas U-20

Dasar Hukum Gereja

Keberadaan musik liturgis dalam Gereja Katolik telah ditetapkan dalam Tra le Sollecitudini atau Instruksi tentang Musik Gerejawi yang dikeluarkan Paus Pius X, dilansir Katolisitas.

Dalam Tra le Sollecitudini 1 disebutkan musik liturgis (sacred music)… mengambil bagian dalam ruang lingkup umum liturgi, yaitu kemuliaan Tuhan, pengudusan dan pengajaran umat beriman.

Musik liturgis memberi kontribusi kepada keindahan dan keagungan upacara gerejawi, dan karena tujuan prinsipnya adalah untuk melingkupi teks liturgis dengan melodi yang cocok demi pemahaman umat beriman, tujuan utamanya adalah untuk menambahkan dayaguna-nya kepada teks, agar melaluinya umat dapat lebih terdorong kepada devosi dan lebih baik diarahkan kepada penerimaan buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh perayaan misteri-misteri yang paling kudus tersebut.

Sementara dalam Tra le Sollecitudini 2 menegaskan bahwa musik liturgis harus kudus, dan harus tidak memasukkan segala bentuk profanitas, tidak hanya di dalam musik itu sendiri, tetapi juga di dalam cara pembawaannya oleh mereka yang memainkannya.

Selanjutnya ditegaskan dalam Tra le Sollecitudini 5 bahwa Gereja telah selalu mengakui dan menyukai kemajuan dalam hal seni, dan menerima bagi pelayanan agama semua yang baik dan indah yang ditemukan oleh para pakar yang ada sepanjang sejarah — namun demikian, selalu sesuai dengan kaidah-kaidah liturgi.

Karena itu musik modern juga diterima Gereja, sebab musik tersebut menyelesaikan komposisi dengan keistimewaan, keagungan dan kedalaman, sehingga bukannya tak layak bagi fungsi-fungsi liturgis.

Namun karena musik modern telah timbul kebanyakan untuk melayani penggunaan profan, maka perhatian yang khusus harus diberikan sehubungan dengan itu, agar komposisi musik dengan gaya modern yang diterima oleh Gereja tidak mengandung apapun yang profan, menjadi bebas dari sisa-sisa motif yang diangkat dari teater, dan tidak disusun bahkan di dalam bentuk-bentuk teatrikal seperti cara menyusun lagu-lagu profan.

Yang perlu ditekankan adalah perbedaan untuk lagu-lagu liturgis, lagu bukan hanya sebagai ungkapan perasaan tetapi ungkapan iman (lex orandi lex credendi).

Karena itu, lagu-lagu profan yang dinyanyikan dalam perayaan Liturgi sangat tidak disarankan karena hal itu tidak membawa persatuan umat dengan Allah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.