PH Randy Minta Kliennya Dibebaskan, Begini Tanggapan Jack Manafe Kakak Astri

Humaniora, Kriminal11 Dilihat
PH Randy Yance dan Jack Manafe.

GRAHA BUDAYA — Keluarga korban pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Astri Manafe dan Lael Maccabbee menanggapi permintaan penasihat hukum (PH) terdakwa Randy Badjideh yang meminta kliennya dibebaskan dari tuntutan hukuman mati.

Dalam pernyataannya akhir pekan lalu, kakak korban bernama Jack Manafe mengatakan keluarga secara pribadi menolak permintaan PH Randy tersebut.

Menurut dia, perbuatan Randy termasuk dalam kejahatan luar biasa karena melakukan perencanaan matang untuk menghabisi nyawa kedua korban pada medio Agustus 2021. Karena itu, tuntutan hukuman mati oleh jaksa terhadap Randy sudah setimpal dengan perbuatannya.

Baca juga: Kantongi Alat Bukti dan 2 Saksi, BS Yakin ‘Pencuci Otak’ RB Segera Diciduk Polda NTT

Jack membeberkan sejumlah fakta yang membuat Randy pantas mendapatkan hukuman yang berat. Pertama, Randy membuat perencanaan untuk membunuh korban, kemudian menyembunyikan jenazah tetapi kemudian mengaku sebagai pelaku. Randy juga diduga menyembunyikan pelaku lain dalam kasus Penkase.

Yang paling menyayat hati adalah Randy menguburkan kedua korban yang masih memiliki hubungan dengannya layaknya binatang di hutan Penkase yang kemudian menajdi lokasi proyek SPAM Kota Kupang.

“Randy itu bukan hanya sekedar membunuh Ate dan Lael tapi sudah merencanakannya jauh-jauh hari, (salah satunya Randy tidak pernah bersama sama Ate di lingkungan keluarga/selalu misterius) kemudian mengaku dia yang bunuh dan mengaku menyembunyikan kedua jenazah, barang bukti, tidak menyesali perbuatannya, olok-olok keluarga bersama PH-nya dengan tos, memberikan keterangan tidak sesuai dengan beberapa fakta GPS mobil Rush, berusaha menjauhkan pelaku-pelaku yang lain, menguburkan jenasah seperti binatang di tengah hutan,” kata Jack melalui akun Facebooknya, Sabtu (23/7).

Baca juga: Romo Deken Larantuka Ditemukan Meninggal di Kamar Tidur, Penyebabnya Masih Misteri

Sebelumnya, PH Randy, Yance Mesah Tobias mengatakan pihaknya akan meminta kliennya dibebaskan dari tuntutan hukum mati. Hal ini disampaikan Yance yang hadir bersama rekan PHnya Beny Taopan usai persidangan perkara pembunuhan Astri dan Lael di Pengadilan Negeri Kupang, Senin 18 Juli 2022.

“Kami akan minta untuk bebas. Kenapa? harusnya terpenuhi 351 ayat 3,” ujar Yance.

Pasal 351 ayat 3 KUH Pidana berbunyi: “Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya, dia dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.”

Baca juga: Mirip Perkara Randy, Kejati NTT Kembali Tolak Berkas Ira Ua

Yance menegaskan permintaan pembebasan itu akan tertuang dalam pledoi yang diagendakan akan dilaksanakan pada 1 Agustus 2022 mendatang.

“Karena tidak didakwa dengan 35I ayat 3 maka kami minta bebas, itu saja,” tandas Yance.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.