Penyidik Serahkan Randy, 2 Mobil, 2 Motor dan Sejumlah Alat Bukti ke Kejati NTT

Humaniora10 Dilihat
Penyidik serahkan Randy ke Kejati NTT.

GRAHA BUDAYA — Penyidik Polda NTT akhirnya resmi menyerahkan tersangka pembunuhan ibu dan anak di Kupang Randy Badjideh dan sejumlah barang bukti.

Penyerahan tersangka dan barang bukti dilaksanakan pada Kamis, 31 Maret 2022. Tersangka Randy tiba di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang pada sekitar pukul 09.00 WITA. 

Randy mengenakan celana pendek warna hitam dan baju tahanan warna orange. Dia terlihat memakai sandal jepit.

Baca juga: Kasus Pencemaran Hostia di Gereja Onekore Ende Naik ke Tahap Penyidikan

Randy tampak lebih gemuk dari sebelumnya ketika muncul ke publik saat melakukan rekonstruksi pada Desember 2021 lalu.

Dari informasi dihimpun, sejumlah barang bukti yang diserahkan penyidik antara lain dua mobil yaitu mobil merk Rush dan Avanza; dua unit motor; dan pakaian korban.

Barang bukti pakaian antara lain baju, celana pendek, pakaian dalam, bra, ikat pinggang, masker mulut, ikat rambut, serta pembalut wanita yang dipakai korban Astri.

Baca juga: Randy Terancam Dijerat Hukuman Mati dengan Pasal Berlapis

Sementara barang bukti bayi Lael adalah topi dengan corak bergaris merah putih, kuning, biru, celana panjang karet berwarna hitam, baju berwarna biru, jaket anak-anak berwarna hijau dan popok.

Selain itu, barang bukti lain, linggis 2 buah, sekop 2 buah untuk menggali lubang, serta enam buah plastik hitam berukuran besar.

Alat bukti mobil Avanza adalah alat bukti yang kemudian ditahan penyidik setelah pihak jaksa Kejati NTT meneliti berkas perkara Randy beberapa waktu lalu.

Mobil tersebut diduga digunakan Randy atau pihak lain dalam rangkaian kejadian pembunuhan terhadap Astri dan Lael.

Dalam rekonstruksi Desember 2021, mobil Avanza tersebut tidak pernah muncul karena Randy mengaku membunuh korban didalam mobil Rush yang dipakainya.

Adanya mobil Avanza terungkap setelah saksi Fery mengatakan kepada penyidik bahwa dia mencuci mobil Avanza saat diminta Randy, bukan mobil Rush.

Dugaan keterlibatan pelaku lain dalam kasus ini kian terbuka dengan munculnya mobil Avanza karena tidak mungkin Randy menggunakan dua mobil sekaligus ketika melancarkan aksi kejinya.

Di Kantor Kejati NTT, pihak penyidik Kejati terlebih dauhulu mengecek kondisi tersangka Randy dan sejumlah alat bukti tersebut.

Pengecekan terhadap tersangka dilakukan untuk memastikan pelaku dalam kondisi sehat agar bisa menjalani persidangan.

Setelah melakukan pemeriksaan, Randy dititp untuk menjalani masa tahanan di rutan Polda NTT yang menurut desas-desus karena alasan keamanan.

Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi NTT, Abdul Hakim mengatakan penahanan tersangka selama 20 hari ke depan akan dialihkan ke penuntut umum.

Menurut dia, sebelum 20 hari masa penahanan jaksa penuntut umum akan membuat dakwaan dan segera melimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan.

Sebelumnya, pakar hukum pidana  Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Deddy Manafe mengatakan tersangka Randy Badjideh alias RB bisa terancam pidana mati jika terbukti berbohong atau berbelit-belit saat persidangan nanti.

Menurut dia, tersangka Randy harus konsisten menyampaikan keterangannya saat persidangan setelah kejaksaan melimpahkan berkas ke pangadilan.

Baca juga: Berkas Lengkap, PH Korban Minta JPU Tidak Ragu Susun Surat Dakwa Randy

“Jika (Randy) ternyata tetap konsisten juga, maka hakim dapat menilai dan memperoleh alat bukti PETUNJUK bahwa benar RB pelakunya, namun berbohong, berbelit-belit, dan tidak menyesali perbuatannya. Ini menjadi ALASAN MEMBERATKAN yang menjadi dasar pertimbangan untuk menjatuhkan pidana mati,” kata Deddy dalam tulisannya yang dikutip di media sosial.

Dia mengatakan dalam kasus ini, penyidik Polda NTT sudah berhasil membuktikan bahwa RB adalah pelaku. Meskipun patut diduga ada pelaku lain yang belum terungkap dalam perkara ini.

Dengan begitu, di pengadilan nantinya RB menjadi subjek hukum yang mampu bertanggungjawab secara pidana.

Baca juga: Tragis, Pengacara Muda di Nagekeo Dibunuh Kakak Sepupu yang Lalu Bunuh Diri

Dengan kata lain, RB adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana sesuai perbuatannya.

Salah satunya adalah memberikan kesaksian mengenai bukti modus kematian korban.

Sebagaimana beredar di media sosial bahwa Astri mati sebagai akibat dibekap dengan tangan sehingga terputus saluran oksigen, maka jelas alat bukti surat ini membuktikan cara (modus) matinya korban.

Terkait hal ini, tentunya dapat didukung dengan alat bukti keterangan ahli forensik untuk menjelaskan sebab-akibat (causalitas) dari modus dan kondisi jenazah Astri. 

Apalagi jika ada saksi lain yang memberikan keterangan yang bersesuaian, maka ada alat bukti keterangan saksi yang ikut mendukung.

“Jadi, untuk unsur ini, minimal didukung dengan 2 alat bukti, yaitu: 1) Alat bukti surat, berupa hasil otopsi; dan 2) Alat bukti keterangan ahli, berupa keterangan ahli forensik,” jelas Deddy Manafe.

Dari hasil autopsi juga ditemukan ada tanda kekerasan pada rusuk dan tengkorak Astri. 

Menurut Deddy, ini berarti ada proses pelumpuhan atau membuat tak berdaya dilakukan sebelum dibekap hingga mati.

Hal ini jelas memenuhi jenis kesengajaan sebagai kepastian. Dengan kata lain, RB memang menghendaki dan mengetahui kematian Astri.

Deddy juga menilai bahwa dalam perkara ini ada dugaan tindakan berencana meski dari pengakuan saksi, tampak peristiwa-peristiwa tersebut berdiri sendiri-sendiri.

Unsur dengan rencana menjadi unsur yang sangat penting bagi RB untuk mewujudkan niatnya untuk membunuh (minimal) Astri. 

Unsur ini dapat diperoleh dari dan didukung dengan alat bukti: 1) Alat bukti surat, berupa print-out pembicaraan atau komunikasi antara RB dan Astri untuk bertemu.

Dari isi percakapan itu, akan muncul motif dari RB untuk mengajak bertemu Astri dan (harus) membawa Lael.

Kabid Humas Polda NTT Rishian Krisna mengatakan bahwa motifnya yaitu, “mengakhiri hubungan terlarang dengan Astri.” Kemudian ketika RB mau mengambil Lael, terjadi pertengkaran keduanya, lalu Astri mencekik Lael hingga mati. Karena jengkel, RB mencekik Astri hingga mati juga. 

Menurut Deddy, keterangan ini tentunya bersumber dari pengakuan RB. Ini akan diuji di Pengadilan, jika RB konsisten dengan keterangan tersebut.

Kemudian, meski nampaknya berdiri sendiri-sendiri, namun Pasal 185 ayat (4) KUHAP dengan tegas menyatakan:

“Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.”

Deddy mencontohkan, keterangan saksi (Arca) yang menjemput Astri dan Lael untuk pergi ke rumah keluarga.

Ini adalah modus untuk mulai menghilangkan jejak korban. Kemudian beralih ke reuni di kos-kosan, lalu dijemput secara rahasia. 

Selanjutnya, ada alibi menguburkan anjing mati, menggali lubang sampai ke hutan Penkase dan seterusnya.

Hemat Deddy, ini jelas rangkaian kesaksian yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi berhubungan dengan kondisi pembunuhan berencana terhadap Astri dan Lael.

Deddy juga melihat ada perbedaan antara pengakuan Randy dengan hasil autopi yang merupakan bukti ilmiah yang lebih dipercaya.

Dia menggarisbawahi bahwa jika nanti dalam fakta persidangan terungkap adanya pelaku lain, maka hakim akan memerintahkan agar dilakukan penyidikan terhada fakta tersebut.

Menurut dia, adanya pelaku lain dalam kasus ini akan bergantung kemampuan JPU untuk menggali fakta persidangan dan kejelian dan kebijaksanaan hakim untuk menilai fakta persidangan.

“Jika ternyata fakta persidangan membuktikan bahwa RB bohong tentang MENCEKIK Astri, maka jelas juga RB patut diduga bohong bahwa Astri yang mencekik Lael,” ungkapnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.