Mobil Rush 2 Kali Bergerak Sendiri, Pakar Hukum: Sopirnya Bukan Ira Ua Tapi Diduga Orang Ini

Humaniora, Kriminal14 Dilihat
Rekonstruksi kasus Penkase.

GRAHA BUDAYA — Fakta persidangan kasus pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Astri Manafe dan Lael Maccabbee mengungkap adanya fakta baru di luar BAP terdakwa Randy Badjideh.

Dalam persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri Kupang memperlihatkan rekaman GPS mobil Rush yang dipakai Randy ketika melakukan eksekusi dan menguburkan Astri dan Lael.

Dalam rekaman tersebut, terungkap bahwa mobil Rush yang dipakai Randy dua kali bergerak tanpa dikemudi oleh Randy sendiri.

Baca juga: Wakili Keluarga Korban, Mex Sinlae Siap Hadapi Laporan 50 Pengacara Pihak PH RB

Mobil Rush pertama kali bergerak meninggalkan rumah David, teman Randy, menuju Kantor BPK ketika Randy dan David pergi ke lokasi Penkase untuk menggali lubang untuk menguburkan kedua korban. Ke sana, mereka menggunakan motor.

Mobil Rush juga bergerak sendiri meninggalkan Kantor BPK Perwakilan NTT ketika Randy pergi ke Naikolan bertemu Ira Ua istrinya menggunakan motor, lalu menuju rumah mereka di Alak.

Ketika ditanya siapa yang mengemudi mobil Rush ketika dia meninggalkan mobil tersebut, Randy menjawab tidak tahu.

Baca juga: Gawat! Koneksi WiFi Buang Sine Dikendalikan OTK dari 4 Pulau Berbeda

Pakar hukum pidana Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Deddy Manafe mengatakan mobil Rush yang bergerak tersebut tidak mungkin dikemudi oleh Ira Ua istri Randy.

Pasalnya, menurut keterangan persidangan Ira Ua menggunakan mobil Avanza dan ketika mobil Rush bergerak saat diparkir di Kantor BPK Perwakilan NTT, saat itu Tersangka IU sedang bersama Terdakwa  di rumah mereka di Alak.

Menurut Deddy, Randy berusaha menyembunyikan indikasi pelaku lain yang menyetir mobil tersebut. Dia menduga orang tersebut bukan orang sembarangan, tetapi bisa jadi memiliki hubungan dekat dengan terdakwa atau orang yang dihormati.

“Orang itu patut dilindungi bahkan dengan mempertaruhkan nyawa sendiri (ancaman pidana mati) karena alasan tertentu. Bisa karena alasan karena perkawinan, hubungan darah, atau orang yang sangat dihormati. Orang itu harus ditutupi karena ada ANCAMAN yang sedemikian rupa bahkan jauh lebih besar dari pidana mati. Artinya, ada kerugian yang jauh lebih besar ketimbang nyawa sendiri,” katanya dalam keterangan tertulis di akun Facebooknya, Jumat (24/6).

Baca juga: Randy Merasa Bersalah dan Menyesal Atas Kematian Astri dan Lael

Deddy mengungkap alasan mengapa penjahat seperti Randy berani berbohong guna menutupi jejak keterlibatan orang lain dalam kasus Penkase.

Secara psikologi kriminil, kata dia, di antara para penjahat memiliki solidaritas dan soliditas yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan organisasi non kejahatan.

Dengan kata lain, daya ikat in-group dari sindikat kejahatan yang terorganisir yang biasa melakukan kejahatan yang serius dan sistematis, ketika berhadapan dengan kejahatan yang ad-hoc seperti kasus Penkase mereka akan menggunakan metode mata rantai terputus. Jika pelaku yang satu terungkap, yang lain harus ditutupi.

Deddy menandaskan bahwa penyidik sebetulnya bisa menguji tingkat kejujuran Randy dalam menyampaikan keterangannya.

Beberapa waktu, penyidik Polda NTT pernah mempublikasiian penggunaan lie detector dalam memeriksa para saksi dalam kasus ini.

Baca juga: Dugaan Dibekap dan Dipukul, Ahli Forensik Sebut Ada Banyak Luka di Sekujur Tubuh Astri dan Lael

Namun sejauh ini, siapa saja yang telah diuji keterangannya menggunakan alat teknologi canggih ini belum dipublikasikan.

“Apakah Terdakwa Randy Badjideh juga sudah melewati pengujian ini? Bagaimana hasil penggunaan lie detector ini? Apakah hasil penggunaan lie detector nantinya menjadi bukti di persidangan? Jika tidak, maka bolehkah orang yang diperiksa dalam Penyidikan dijadikan semacam kelinci percobaan? Diujicoba dengan lie detector, kalau hasilnya sesuai keinginan dijadikan bukti, tapi kalau hasilnya berlawanan dengan kehendak yang memeriksa dibuang?” paparnya.

Deddy menyebut, dalam wawancara PODJEMS dengan Kapolda NTT Irjen Pol Setyo Budiyanto, antara lain dikatakan bahwa Penyidik Polda NTT sedang menunggu fakta persidangan guna menetapkan tersangka baru dalam kasus ini.

“Semoga janji tersebut segera terealisasi. Alternatif berikutnya, semoga JPU dalam petunjuk terhadap kelengkapan berkas perkara Tersangka IU mencantumkan point ini. Bisa juga Majelis Hakim memerintahkan JPU menindaklanjuti fakta persidangan tersebut,” ungkapnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.