Max Weber Sebut Orang Flores Punya Bakat Musik Lebih Tinggi dari Suku Lain di RI

Humaniora6 Dilihat
Max Weber soal musik Flores.

GRAHA BUDAYA Beberapa waktu lalu, musisi etnik senior asal NTT Ivan Nestorman membaptis Flores sebagai “The Singing Island”. Baptisan ini bukan umbaran semata tetapi merujuk pada kajian etnomusikologi yang dilakukan para peneliti Barat.

Salah satu peneliti Barat yang berbicara tentang kekuatan musik Flores adalah sosiolog asal Jerman Maximilian Weber atau dikenal dengan Max Weber.

Menurut dia, barangkali di Flores tidak banyak ditemukan alat musik instrumen. Tetapi cita rasa musikal orang Flores sangat istimewa. Bahkan, melampaui suku-suku besar lain di Indonesia yang terkenal dengan alat musik dan sudah go international.

Lihat juga: Fakta Unik dan Menarik tentang Orang Flores

Bakat musik orang Flores berakar sangat kuat dan telah meresap ke dalam kehidupan.

Situs resmi Pemerintah Provinsi NTT menyebut sebagian kecil dari alat musik tradisional NTT. Di antara alat musik tiup ada foy doa, foy pay, knobe khabetas, nuren, sunding tongkeng, prere, dan suling hidung. 

Ada juga alat musik petik, seperti gambus, knobe oh, heo, leko boko/bijol, reba, mendut, ketadu mara, serta sejumlah alat musik lain, misalnya sowito, kelontang, tata buang, thobo, dan sejumlah gong.

Pengakuan Weber tertuang dalam tulisan  J. Kunst (1942), etnograf asal Belanda.

Kunst pernah meneliti lagu dan musik instrumental pada suku-suku di Pulau Flores. 

Hasilnya diterbitkan di Leiden tahun 1942 berjudul “Music in Flores: a Study of The Vocal and Instrumental Music Among The Tribes Living in Flores”.

Baca juga: Di TTS, Jokowi Sebut Masalah Gizi Anak Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah

Dalam penelitiannya, dia mengumpulkan 200 nyanyian dan menemukan 59 jenis instrumen musik yang berbeda. Sasando, yang kini sangat populer, adalah salah satu dari alat musik yang dikaji Kunst saat itu.

Berikut kutipan pernyataan Weber yang dimuat Kunst dalam bukunya sebagaimana dikutip dari Facebook Longginus Biaedae.

“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. 

Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? 

Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik. 

Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh.”

Memang orang Flores memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian kooryang menekankan harmonisasi, keseimbangan dan persatuan.

Ini terbukti dari beberapa jenis nyanyian dan tarian orang Flores yang sampai saat ini masih diwariskan, seperti Jai (Ngada), Dero (Soa/Nagekeo), Teke Se (Toto-Nagekeo), Gawi (Ende), Hegong (Sikka), dan Dolo-Dolo (Flores Timur-Lembata).

Di Ngada, modifikasi nyanyian Jai ke dalam musik modern antara lain dibangkitkan oleh musisi gaek seperti Nus Betu lewat Mataraga Group. Sementara di Sikka, musik modern Hegong dimulai oleh Nyong Franco, yang lagunya “Gemu Famire” tembus pasar musik internasional pada tahun 2015.

Di Ende dan Flores Timur, hampir tidak ada periode yang menandai kebangkitan musik modern Gawi maupun Dolo-Dolo karena kedua tarian itu sudah berakar di dalam seremoni adat dan kebudayaan masyarakat.

Sayangnya, di Nagekeo, tarian Dero dan Teke Se sudah hampir punah. Belakangan ada upaya menghidupkan kembali lewat kegiatan-kegiatan di sekolah tetapi belum masif. Sementara, nyanyian tradisional seperti “Gore” dan “Cenda”, yang biasanya didaraskan saat menuai padi sudah hilang. 

Di beberapa wilayah, ada inisiasi untuk menghidupkan kembali tetapi perbedaan generasi yang cukup jomplang membuat cita rasa nyanyian itu kurang hidup.

Sebagian lagu-lagu motif Flores juga sudah diakomodasi dalam liturgi Gereja Katolik dan sudah termuat dalam buku nyanyian “Madah Bhakti” yang kini sudah jarang dipakai karena kebijakan latinisasi liturgi.

Namun sebetulnya buku ini juga kurang disukai di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas.

 Apalagi sekarang ini, liturgi Gereja Katolik sudah mengurangi penggunaan Madah Bhakti dan beralih ke Puji Syukur. 

Lagu-lagu Gereja dengan motif musik Flores pun mulai dilarang dinyanyikan pada Misa Hari Minggu, kecuali perayaan khusus.

Hanya di kampung-kampung, orang-orang Flores masih menyanyikan lagu-lagu liturgi dengan motif khas Flores yang terasa lebih relevan dengan cita rasa hidup mereka.

Kalaupun orang Flores sangat berbakat dalam hal musik, tapi mengapa tidak banyak orang Flores yang manggung di level nasional. Yang kita lihat saat ini industri musik tanah air didominasi oleh orang-orang Batak, Ambon, dan Jawa.

Beberapa studi mengatakan bahwa ada beberapa kendala yang membuat tradisi musik di Flores sulit berkembang.

Bukan hanya kendala modal atau peluang, tetapi juga masalah kebudayaan.

Studi yang dilakukan Vatter (1984), Graham (1985) dan Taum (1997b) mengungkapkan bahwa keluarga-keluarga di Flores memainkan peranan yang sangat kecil dalam proses pendidikan dan sosialisasi anak.

Keluarga bukan tujuan melainkan sarana bagi pembentukan kelompok sosial yang menjadi inti masyarakat dan menentukan suku. Suku itulah basis sosial terkecil dan otonom. Semua hak dan kewajiban individual diarahkan kepada kebersamaan suku.

Dalam rasa kesukuan itu, ruang bagi ekspresi dan aktualisasi potensi pribadi menjadi lebih terbatas. Sebaliknya kebersamaan menjadi lebih bernilai. 

Karena itulah, jangan heran kalau orang-orang Flores sangat unggul dalam nyanyian koor.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.