Jika Terus Berbohong hingga di Pengadilan, Randy Bisa Saja Dihukum Mati

Humaniora15 Dilihat
Randy Suhardy Badjideh.

GRAHA BUDAYA Pakar hukum pidana Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Deddy Manafe melihat ada hal yang krusial dalam berkas perkara pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Astri Manafe dan Lael.

Salah satunya adalah masuknya Pasal 55 KUHP dalam dakwaan terhadap Randy Suhardy Badjideh alias RB.

Berkas dakwaan Randy didaftarkan dengan nomor perkara 80/Pid.B/2022/PN Kpg di PN Kupang pada 25 April 2022.

Baca juga: Randy Dipindahkan ke Rutan Kejari Kupang, Sidang 11 Mei Bakal Digelar Offline

Menurut Deddy, masusknya pasal tersebut menunjukkan keyakinan jaksa penuntut umum (JPU) dengan merujuk pada kronologi kejadian perkara dan alat bukti dan barang bukti, bahwa RB bukan pelaku tunggal.

Diberitakan bahwa pada awalnya RB mengaku sebagai pelaku tunggual yang membunuh Astri dengan cara (modus) mencekik karena (alasan atau motif) jengkel melihat Astri mencekik mati Lael. 

Kemudian pada saat pelimpahan berkas perkara dari Penyidik Polda NTT ke JPU Kejati NTT (bolak-balik 4 kali), tiba-tiba muncul penjelasan bahwa RB yang membunuh kedua korban.

Baca juga: Praperadilan, Deddy Manafe Sebut Penetapan Tersangka Ira Sesuai 3 Alat Bukti

Deddy memandang, berubahnya keterangan RB ini menunjukan bahwa RB sedang berbohong atau pernah berbohong.

Jika pengakuan pertama yang benar, maka keterangan kedua yang bohong. 

Sebaliknya, jika keterangan kedua benar, maka pengakuan pertama bohong. 

Baca juga: Deddy Manafe Ungkap 3 Kemungkinan Peran Ira dalam Kasus Penkase

Dalam kondisi paling ekstrem, RB berbohong dalam pengakuan pertama maupun keterangan kedua. Bahwa RB memang terlibat dalam peristiwa pertemuan untuk mengakhiri hubungan terlarang dengan korban Astri yang berujung maut itu.

Namun adalah sangat mungkin drama misteri ini masih akan berlanjut. Kebohongan pengakuan atau keterangan RB seharusnya bisa terdeteksi secara ilmiah oleh penggunaan alat polygraph.

Ketika nanti di dalam pemeriksaan persidangan pada 11 Mei 2022, fakta-fakta persidangan ternyata berbeda dengan keterangan terdakwa, maka ancaman pidana maksimal dari Pasal 340 KUHP semakin mungkin dijatuhkan oleh majelis hakim. 

Hal itu karena berbohong merupakan kata lain dari tidak cooperatif, berbelit-belit, menutupi kebenaran yang jelas menjadi alasan yang memberatkan pidana. 

“Dengan kata lain, konsistensi RB untuk bohong, makin mendekatkan dirinya dengan REGU TEMBAK,” kata Deddy Manafe dalam tulisannya dikutip Sabtu (30/4).

Pakar hukum pidana ini pun merekomendasikan agar Randy bisa bebas dari hukuman mati.

Pertama, dia harus benar-benar menyesali perbuatannya. Kedua, dia harus memberi keterangan yang benar tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Ketiga, Randy dengan jujur menerangkan pihak lain yang terlibat berikut perannya masing-masing.

Keempat, jika mungkin, RB menunjuk bukti-bukti yang terkait langsung dengan peristiwa naas itu dan keterkaitannya dengan peran dari pihak lain dalam kasus Penkase.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.