Hendak Dikirim ke Jakarta, 736 Ekor Sapi Asal NTT Tertahan di Surabaya karena Wabah PMK

Humaniora7 Dilihat
Sapi asal NTT.

GRAHA BUDAYA Sebanyak 736 ekor sapi yang dikirim dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Sapi tersebut rencananya akan dikirim ke DKI Jakarta, namun tertahan karena ada penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan yang mewabah di Jawa Timur (Jatim).

“Saat ini kapal sudah sandar di Surabaya. Sebab keputusan adanya PMK itu keluar bersamaan dengan berangkatnya kapal, sehingga tidak bisa dihindari lagi,” kata Kepala Balai Karantina Hewan NTT Yulius Umbu H ketika, Sabtu (14/5).

Baca juga: Polda NTT: Keterangan 58 Saksi Jadi Dasar Penetapan Tersangka Ira Ua

Sebelumnya, sebanyak 400 dari NTT terancam batal dikirim ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dikarenakan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

Direktur UD Terobos Yohanes Laka mengatakan adanya wabah PMK sangat merugikan para pengusaha sapi yang selama ini mengirimkan sapi ke luar dari NTT untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi di sejumlah daerah itu.

Selain itu, ada 200 ekor sapi yang akan dikirim ke Samarinda, Kalimantan Timur karena daerah itu masih bebas dari PMK.

Baca juga: Ini Pernyataan Ira Ua yang Membuatnya Jadi Tersangka

“Kalau Kalimantan Timur ada kasus juga maka ratusan sapi milik saya ini tidak akan bisa saya kirim dan pastinya rugi,” katanya.

NTT sendiri mengirimkan sapi menuju ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti ke DKI Jakarta dan juga ke Kalimantan.

Kini daerah yang masih bebas dari PMK adalah DKI Jakarta, sehingga sejauh ini tak ada kendala dalam proses pengiriman menggunakan kapal tol laut Cemara Nusantara.

Namun jika menggunakan kapal kargo, harus melewati Jawa Timur sehingga para pengusaha mengaku harus membayar lebih agar kapal itu langsung ke Jakarta.

Baca juga: Kardinal Zen Ditangkap Polisi Hong Kong

Selain yang ada di Kupang, Yohanes mengatakan 600-an ekor sapi miliknya yang ada Wini, Kabupaten TTU tujuan Kalimantan juga terancam tidak bisa dikirim.

Untuk NTT sendiri, saat ini masih nol kasus PMK. Yulius mengatakan untuk mencegah jangan sampai ada kasus PMK di NTT, pemerintah NTT harus mengeluarkan larangan masuk bahan makanan yang bersumber dari daging dan susu dengan menerbitkan instruksi gubernur. 

Saat ini, draft instruksi gubernur sudah ada tinggal menunggu tanda tangan dari Gubernur NTT Viktor B Laiskodat.

Baca juga: Hamili Siswanya Sendiri, Oknum Guru di Lembata Tak Mau Tanggung Jawab

Kasus PMK ini, ujar dia, jangan dianggap remeh. Sebab dampaknya akan sangat luas bagi masyarakat di NTT yang mempunyai budaya sosial yang bergantung pada hewan dalam acara-acara adat.

Ia mengatakan sambil menunggu instruksi tersebut keluar, pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait melakukan sidak di sejumlah pusat perbelanjaan yang menjual berbagai makanan kemasan daging yang dikirim dari daerah tertular. 

Seperti dari Jawa Timur serta dari Kalimantan yang kini juga sudah menutup pintu masuk bagi hewan ternak yang dikirim.

“Untuk mengantisipasi penyebaran PMK, petugas karantina dan Dinas Peternakan juga melakukan pemeriksaan kesehatan sapi-sapi untuk memastikan kesehatan sapi-sapi yang ada di NTT,” tukasnya.

Ahli kesehatan hewan NTT, Maria Geong, mengimbau Gubernur Viktor untuk tidak ragu mengeluarkan instruksi penutupan penerimaan hewan dari daerah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan.

Menurut dia, acuan aturan untuk menutup wilayah dari daerah terjangkit kembali kepada daerah lain karena PMK sangat infeksius dan wabah yang perlu diantisipasi.

“Tidak boleh ada keragu-raguan untuk melindungi sumber daya hayati yang memiliki manfaat ekonomi, sosial dan budaya yang sangat tinggi,” katanya, Selasa (10/5).*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.