Dipolisikan karena Dugaan Kekerasan, BKH akan Lapor Balik Manajemen Resto Mai Cenggo

Benny Kabur Harman (BKH).

GARAHA BUDAYA — Anggota Komisi III DPR RI asal NTT, Benny Kabur Harman (BKH) diduga melakukan kekerasan terhadap manajer operasional Mai Cenggo di  Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Insiden kekerasan tersebut terjadi pada Selasa (24/5). Dugaan pemukulan tersebut disebabkan oleh karena Manager Resto Mai Cenggo meminta BKH untuk pindah tempat duduk dengan alasan tempat tersebut telah dipesan oleh tamu lainnya di resto tersebut.

Permohonan pindah kursi itu tidak diterima oleh politikus Partai Demokrat asal Todo, Manggarai yang sudah duduk di Senayan sejak tahun 2004 tersebut. BKH lalu mengikuti Manager Resto Mai Cenggo dan melancarkan aksi kekerasannya. Tindakan tak terpujinya itu berhasil terekam kamera CCTV milik Resto Mai Cenggo dan cuplikan videonya pun viral di media sosial.

Baca Juga: Ira Ditahan, PH Korban: Perbuatan IU Kejahatan Berat

Manajemen Resto Mai Cenggo kemudian melaporkan dugaan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan BKH ke pihak kepolisian Polres Manggarai Barat.

Menanggapi hal itu, BKH pun mengatakan pihaknya akan melapor balik manajemen Resto Mai Cenggo yang diduga terlebih dahulu melakukan kekerasan terhadapnya.

Dalam klarifikasi tertulis yang diterima Graha Budaya, Kamis (26/5) malam, BKH menjelaskan duduk perkara yang terjadi di Resto Mai Cenggo pada Selasa lalu.

Dia mengatakan bahwa pada hari tersebut, dia bersama istri serta anak dan seorang saudara makan di Resto Mai Cenggo sekitar pukul 12.30 Wita.

Setelah masuk restoran, mereka langsung diarahkan ke lantai bawah di dalam ruangan VIP ber-AC. Mereka sendiri yang memilih tempat/meja dari sekian meja yang ada, lalu duduk dan tidak ada tulisan atau pemberitahuan apapun dari pihak resto bahwa meja yang ditempati sudah di-booked/reservasi. 

Baca Juga: Oknum Ketua BPD di Nagekeo Gagahi Adik Sepupu, Kini Hamil 5 Bulan

Lanjut BKH, setelah duduk mereka langsung memesan beberapa jenis makanan, namun 15 menit kemudian mereka disuruh untuk tinggalkan tempat tersebut.

“Setelah 15 menit menunggu, kami pesan ikan gurami, ayam bakar, dll dan juga minuman yg ditawarkan. Petugas restoran mencatat apa yang kami pesan dan diberitahu kepada kami harus menunggu dan akan segera dilayani. Sekitar 15 menit kemudian, tanpa basa-basi kami diberitahu untuk segera setelah ruangan itu tidak terpakai/sudah direservasi,” ujar BKH.

Merasa diperlakukan tidak adil, politikus Partai Demokrat tersebut bertanya kepada karyawan hotel yang suruh mereka keluar. Agar tidak terjadi salah paham, Benny pun meminta untuk bertemu dengan manager resto.

“Saya bertanya mengapa kami keluar, apakah kami tidak mengizinkan makan di ruangan yang ber-AC. Memang saya pakai celana pendek dan bajo kaos, lagi lusuh karena baru dari kerja kebun. Karena merasa tidak diperlakukan secara wajar, kami bermaksud bertemu dengan Manager Resto atau pemilik resto, apa sebenarnya yang terjadi. Kami beritahu karyawan yang melayani untuk beritahu manager atau pemilik bahwa kami ingin bertemu agar tidak terjadi salah paham,” katanya.

Baca Juga: Ira Ua Nyatakan Siap Menerima Hukuman terkait Kasus Penkase

Karena lama menunggu, BKH mendatang lagi pihak front desk dan meminta agar bisa bertemu dengan pihak pengelola atau pemilik hotel. Pada saat itu, dia mendapatkan informasi bahwa ruangan yang ditempati mereka baru direservasi setalah dia bersama keluarganya sudah berada di dalam.

“Di front desk itu kami menerima informasi bahwa tamu barusan reservasi pertelepon setelah kami sekeluarga datang ke tempat itu. Sehingga kami merasa bahwa kami diperlakukan semena-mena,” tuturnya.

Anggota Komisi III DPR RI ini menyampaikan rasa kecewanya kepada pihak manajemendan merasa pihak manajemen telah bertindak biadab dan tidak beradab terhadap tamu hotel.

“Ini kan daerah pariwisata super premium. Kalau kami diperlakukan begini, apalagi rakyat kecil. Kami mohon penjelasan apa sebenarnya yang terjadi dan alasan apa kami diusir dari ruangan itu,” tukasnya.

Dia pun mempertanyakan alasan pihak hotel mengusir mereka meninggalkan meja tersebut. Namun pihak hotel tidak menjawab. Dari seorang karyawan, dia kemudian mengetahui bahwa manajer hotel tersebut sedang berada di Denpasar, Bali.

Bca Juga: Dari 1000 Lilin hingga Penahanan Tersangka Ira Ua

Kesal dengan sikap manajer operasional tersebut, anggota DPR-RI NTT dari Dapil II tersebut langsung menampar muka karyawan dan mengingatkan agar sopan santun terhadap tamu.

“Saya juga meminta Ibu yang duduk di ruangan agar memberikan perlakuan yang wajar kepada setiap tamu yang datang. Kalau sudah ada meja yang dipesan hendaknya diberitahu kepada setiap tamu yang datang atau ditulis di mejanya sebelum tamu-tamu duduk; dan hendaknya tamu yang sudah datang terlebih dahulu ke tempat didahulukan daripada tamu yang reservasi,” terangnya.

Menurut BKH, apa yang dilakukannya menjadi peringatan bagi semua resto di Labuan Bajo karena Labuan Bajo sudah menjadi destinasi pariwisata premium.

Sempat bertemu dengan pemilik resto, namun mereka langsung pulang dan mencari resto yang lain. Saat itu pemilik resto dan salah satu karyawan menyampaikan permohonan maaf.

“Pihak restoran yang diwakili oleh ibu Kiki dan Rikardo selaku karyawan yang mengusir kami, telah menyampaikan permohonan maafnya atas kesalahan mereka” tandasnya.

Baca Juga: Kematian Bendahara Bupati Lembata Dinilai Tak Wajar

Pada Kamis (26/5), BKH mendapatkan kabar bahwa dia dilaporkan dengan tuduhan melakukan kekerasan. Namun politisi Demokrat tersebut mempertanyakan apa yang telah dia lakukan dan seharusnya pihak manajer resto Mai Cenggo yang melakukan kekerasan terhadap mereka.

“Bahwa hari ini saya dengar kabar bahwa saya dilaporkan oleh Manajer Mai Cenggo ke polisi dengan tuduhan melakukan kekerasan. Manajer Mai Cenggo juga menyebarkan berita bohong kepada masyarakat bahwa saya melakukan kekerasan berkali-kali atau menampar tiga kali terhadap karyawan Resto Mai Cenggo. Kekerasan apa yg saya lakukan? pihak Manager Resto Mai Cenggo yang sebenarnya telah melakukan kekerasan terhadap kami?” pungkas BKH.

Menyoal laporan tersebut, mantan wartawan yang meraih gelar Doktor dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta (2006) tersebut akan mengajukan laporan perbuatan tidak menyenangkan yang mereka terima dari resto Mai Cenggo.

“Pihak kami akan mengajukan laporan polisi atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang kami terima dan juga melaporkan ke polisi, hoaks, dan menyebarkan informasi sesat kepada publik,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Humas Polres Manggarai Barat, Iptu Eka Darmayadu telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi yang menyaksikan peristiwa pemukulan terhadap Manajer Operasional Mai Cenggo, pada Selasa (24/5) lalu.

“Reskrim sudah melakukan pemeriksaan awal berkaitan dengan masalah tersebut yaitu dengan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi korban maupun saksi-saksi yang lain yang diduga pelaku menurut keterangan pelapor adalah BKH,” ungkapnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.