Deddy Manafe Sebut Tersangka Kasus Astri dan Lael Bisa Lebih dari 1 Orang

Humaniora5 Dilihat

 

Deddy Manafe.

GRAHA BUDAYA –Pakar hukum pidana Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Deddy Manafe mengatakan tersangka kasus pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Astri Manafe dan Lael Maccabbee bisa lebih dari satu orang.

Hal itu disampaikannya untuk menanggapi konferensi pers yang dirilis Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT belum lama ini.

Dalam rilisnya, Kejati NTT mengatakan bahwa Randy dikenakan pasal berlapis, yaitu Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana (primer); Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan (subsider). Kedua pasal ini untuk pembunuhan Astri.

Baca juga: Kapolri Mutasi Wakapolda, Dirreskrimum dan Kabid Humas Polda NTT

Randy juga dijerat Pasal 80 ayat (3) dan (4) UU Perlindungan Anak tentang kekerasan yang menyebabkan matinya anak oleh orangtua (kandung, biologis); juncto 1) Pasal 55  ayat (1) KUHP tentang keturutsertaan dalam melakukan tindak pidana; dan 2) Pasal 56 KUHP tentang pembantuan dalam melakukan tindak pidana.

Menurut keterangan Kejati NTT, Randy kini ditahan di rutan Polda NTT setelah berkas rampung pada 23 Maret 2022 lalu.

Selanjutnya, penyidik Polda NTT juga sedang memeriksa sejumlah orang lagi terkait perkara Astri dan Lael.

Baca juga: Lengkap: Nama dan Asal 18 Warga NTT Korban Kecelakaan di Papua

Deddy Manafe mengatakan, secara hukum prosedural sejatinya Randy tidak lagi ditahan di Polda karena berkas perkara sudah lengkap (P-21). Dan tidak perlu ada lagi pemeriksaan lanjutan oleh penyidik.

“Apabila benar berita pada media online tersebut bahwa Tsk RB dikenakan juga Pasal 55 ayat (1) KUHP dan Pasal 56 KUHP serta adanya pemeriksaan sejumlah orang terkait perkara ini, maka jelas bahwa dalam pandangan JPU Kejati NTT kalau RB bukan tersangka tunggal. Masih ada pelaku lain yang layak dijadikan sebagai tersangka,” ujar Deddy Manafe dalam sebuah tulisannya yang dikutip di media sosial, Senin (18/4).

Dia menjelaskan bahwa pada Pasal 55 ayat (1) KUHP mengidentifikasi pelaku tindak pidana yang jika diterapkan pada pembunuhan Astri dan Lael dalam dijelaskan dalam beberapa skenario berikut:

Pertama, pelaku (materieel dader), yaitu orang yang memenuhi semua unsur delik (bestandeel delict) dari pasal yang dikenakan.

Dalam konteks ini bisa saja RB merupakan materieel dader-nya. Artinya, pada perbuatannya (feitelijke) harus memenuhi unsur delik pembunuhan berencana pada Astri dan kekerasan yang menyebabkan matinya Lael.

Kedua, orang yang menyuruh melakukan (doen pleger), yaitu orang lain yang menyuruh RB untuk membunuh Astri dan Lael. Dalam pembunuhan berencana, orang lain ini merupakan PERENCANA (actuur intelectualis) agar Astri dan Lael dibunuh.

Perencana di sini haruslah merupakan MANUS DOMINA yang memiliki kuasa atau kemampuan memaksa/mewajibkan/membuat tak ada pilihan bagi RB, sehingga RB menjadi sekedar MANUS MINISTRA atau alat yang melaksanakan kehendak dari sang perencana.

Ketiga, orang yang turut serta melakukan (medepleger), yaitu orang yang meskipun pada perbuatannya tidak memenuhi semua unsur delik dari pembunuhan berencana pada Astri dan kekerasan yang menyebabkan matinya Lael, namun memiliki KERJASAMA yang erat (het gesamen werking) dengan RB dalam pembunuhan tersebut.

Keempat, orang yang menghasut untuk melakukan (uitloker), yaitu orang lain yang dengan iming-iming tertentu seperti janji atau bayaran tertentu menghasut RB untuk membunuh Astri dan Lael; atau menghasut orang lain agar bersama-sama RB membunuh Astri dan Lael.

Kemudian, Pasal 56 KUHP jika diterapkan pada pembunuhan Astri dan Lael, maka yang dimaksud di sini yaitu, orang (-orang) lain yang membantu  (medeplichtige) RB membunuh Astri dan Lael. 

Kriteria orang yang membantu yaitu:

Pertama, orang yang sengaja membantu RB pada saat RB membunuh Astri dan Lael. 

Dalam konteks ini, andai kata dalam rekonstruksi, ada orang benaran dan anjing benaran atau minimal boneka yang mirip dengan ukuran tubuh Astri dan Lael di masukan ke dalam kantong plastik, lalu meminta 2 orang saksi yang membantu RB menggali lubang di hutan Penkase untuk menunjuk kantong mana yang bentuk dan ukurannya mirip dengan kantong yang menurut mereka berisi anjing mati. 

Pasti yang ditunjuk adalah kantong yang berisi anjing benaran. Tapi kalau disuruh untuk menunjuk kantong mana yang mirip dengan kantong yang dikuburkan di hutan Penkase. Pasti yang ditunjuk adalah kantong yang berisi manusia benaran atau boneka yang mirip ukuran tubuh Astri dan Lael.

Ini adalah metode identifikasi sederhana. Metode ini biasa digunakan untuk mengenali pelaku dari sejumlah orang yang mirip dan diminta saksi atau korban untuk mengenalinya.

Kedua, orang (-orang) yang memberikan sarana, informasi atau kesempatan kepada RB atau orang lain yang bersama RB untuk membunuh Astri dan Lael.

Misalnya, orang yang mengajak Astri dan harus bersama Lael. Orang yang memberikan sarana 2 mobil dan seterusnya.

“Dengan basis bukti yang ada selama 4 bulan penanganan perkara ini, seharusnya sudah sangat membantu Penyidik Polda NTT untuk menemukan tersangka baru,” katanya.

Deddy Manafe mengajak publik NTT berdoa agar dalam proses ini ada orang lain yang karena nuraninya terketuk agar menyerahkan diri dan mengaku bahwa dia juga terlibat dengan peran seperti yang dikaksud dalam Pasal 55 ayat (1) dan Pasal 56 KUHP. 

Kalau tidak, dengan scientific investigation method yang digunakan oleh Penyidik Polda NTT, walau pelakunya sudah di depan mata, jika bukti-bukti secara ilmiah tidak mendukung, maka tidak akan ditetapkan sebagai tersangka.

“Jadi, jelaslah bahwa hanya penyerahan diri secara sukarela dari orang lain itu, yang akan sangat menolong penyidikan oleh Penyidik Polda NTT,” ungkapnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.