Begini Respons Ira Pasca Kenakan Rompi Orange Milik Polda NTT

Konferensi pers Ira Ua.

GRAHA BUDAYA — Tersangka kasus pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Irawaty Astana Dewi Ua alias Ira Ua resmi mengenakan rompi orange milik Polda NTT pada Jumat, 27 Mei 2022 sore.

Ira Ua mengenakan rompi orange Nomor 6 dan memunggungi wartawan yang hadir mendengar jalannya konferensi pers di Lobi Bidhumas Polda NTT.

Direktur Reskrimum Polda NTT AKBP Patar M. H. Silalahi, didampingi Ps. Kasubbid Penmas Bidhumas Polda NTT Kompol Samuel Koehuan mengatakan tersangka akan menjalani penahanan sambil menunggu penelitian berkas perkara oleh Kejakasaan Tinggi NTT.

Baca juga: Viral Oknum Polwan di Kupang Ancam ‘Injak Kasih Mati’ Warga yang Rekam Razia Polisi

Ira Ua mendekam di tempat sel tahanan wanita di Direktorat Tahti Polda NTT.

“Pada saat masuk di ruang sel, kita ikut prosedur yang ada, pemeriksaan swab antigen dan pemeriksaan negatif dan kondisi kesehatan baik dan di ruang tahanan adalah ruang tahanan wanita,” ujarnya dikutip dari akun Facebook resmi Humas Polda NTT, Sabtu (28/5).

Pasca konferensi pers, wartawan berupaya menanyakan tanggapan tersangka Ira Ua mengenai penahanannya. Namun Ira Ua menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa dia belum mau berkomentar.

“Iya, jadi beliau tidak menjawab dengan masalah itu ya,” ujar Patar kepada wartawan yang hadir.

Baca juga: Polda NTT: Tahap I Berkas Perkara IU Sudah Dikirim ke Kejati NTT

Patar mengatakan sesuai berita acara pemeriksaan (BAP) tersangka untuk sementara tidak terlibat langsung dalam pembunuhan ibu dan anak di Kupang, Astri Manafe dan Lael Maccabbee.

“Sesuai dengan BAP, kita masih secara langsung tidak ada. Di sini faktanya ada WA yang mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak tenang kalau si korban masih ada,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa dalam kasus Astri dan Lael, peran Ira Ua lebih kepada turut serta. Hal itu dibuktikan dari percakapan WA, saksi dan bukti digital lainnya.

“Perannya lebih kepada turut serta,” ucapnya.

Polda NTT: Ira Ua Tidak Terlibat Namun Turut Serta dalam Kasus Penkase

Dia mengatakan, menurut pendapat Ahli rangkaian kalimat tersangka yang berbunyi “hidup saya tidak tenang selama Ate dan Lael masih ada ” adalah pemicu Randy melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Ate dan Lael.

Tujuan utama Randy membunuh Ate dan Lael adalah untuk mempertahankan hubungan Randy dengan Ira yang selama ini sudah terjalin sebagai rumah tanggao

Dia menerangkan, motifnya adalah Ate dianggap sebagai penghalang hubungan rumah tangga Randy dengan Ira karena Ate selalu berusaha menghubungi Randy untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya, yaitu bayi Lael.

Adapun motif yang dilakukan yaitu tersangka merasa kesal dan marah setelah mengetahui perselingkuhan antara suami (Randy) dan korban (Astrid). Sedangkan modus operandi bahwa tuturan atau bahasa yang selalu diucapkan pada saat tersangka bertengkar atau berkelahi dengan suaminya secara berulang kali diucapkan atau secara sistematis hal ini menjadi pemicu suaminya untuk melakukan suatu pembunuhan.

Tersangka berdasarkan bukti permulaan yang cukup diduga keras telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, “Sebagaimana dimaksud pasal 340 KUHPidana Subs pasal 338 KUHPidana Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 2 KUHPidana Jo Pasal 80 Ayat (3) dan((4) Jo Pasal 76 C Undang- Undang No.35 tahun 2014, tentang perubahan atas Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak  atau Pasal 221 ayat (1) KUHPidana dengan acaman pidananya di atas 5 tahun.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.